Suara yang telah lama kurindu hadir kembali, yaitu suara hangat Kang Agus Al-Muhajir—salah satu penyiar favoritku di MQfm—dengan karakternya yang selalu bersemangat dalam membacakan skrip dan selalu responsif terhadap apa yang disampaikan setiap ustad narasumber.
Jumat sore itu, 1 Agustus 2008, adalah hari pertama MQfm resmi mengudara lagi setelah hilang selama lebih kurang 2 bulan. Walaupun sejak pagi sempat bolak-balik muncul dan menghilang, tapi ba’da Ashar itu siarannya cukup bagus, lancar dan jernih. Kang Agus memandu sesi “Mata Hati” yang setiap harinya, insyaAllah, akan hadir selepas waktu Ashar hingga pukul 17.30. Khusus Jumat sore akan diisi dengan materi akidah yang dibawakan oleh Ustad Abu Yahya.
Untuk sebuah siaran perdana yang muncul setelah sekian lama vakum, menurutku materi sore itu sangat baik dalam me-refresh semangat pencarian ilmu yang selama ini menjadi motivasi para pendengar MQfm untuk terus stay-tune di frekuensi 102,7 fm bandung. Sebuah pembahasan singkat nan padat tentang ayat-ayat terakhir sebuah surat yang saya yakin setiap muslim—yang shalat dengan baik maupun yang setidaknya pernah belajar shalat—menghapalnya dengan baik, Al-Fatihah.
Pembahasan dimulai dengan ayat 5 Al-Fatihah,
“ Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”
Sebuah ayat yang menggambarkan konsep Islam yang menuntun umatnya untuk mendahulukan ibadah kepada Tuhannya sebelum kemudian meminta sesuatu dari Tuhannya. Ayat yang mengajarkan tatakrama dan etika kita sebagai makhluk di hadapan Sang Pencipta. Karena sudah sepantasnya kita beribadah, menyembah, dan mengagungkan Allah SWT yang sudah menganugerahkan banyak hal padahal kita tidak pernah memintanya; sebelum dilahirkan kita tidak pernah minta dianugerahi sepasang mata, telinga, tangan dan kaki, kesehatan, kecerdasan, bumi dengan segala kompleksitasnya yang membuatnya dapat kita tinggali, dan yang utama: Iman-Islam. Bahkan dengan konsep Islam bahwa hidup adalah ibadah, maka ibadah ini tidak terbatas pada jenis ibadah yang mahdhah—yang tatacaranya diatur dengan detil dan dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Namun setiap gerak langkah, sejak bangun pagi hingga terlelap tidur kembali, haruslah diniatkan dan diikhtiarkan selalu dalam koridor ibadah kepada Allah.
Setelah kewajiban kita beribadah tertunaikan, barulah kita pantas memohon dan meminta yang kita inginkan dari-Nya; uang, pangkat-jabatan, isteri/suami, anak, kesehatan, kesembuhan, ketenangan, dan lain-lain. Namun dengan elegan Al-Fatihah mengajarkan pula tentang apa yang seharusnya kita minta pertama kali dari Allah SWT. Karena ayat 5 Al-Fatihah tersebut disambung langsung dengan ayat 6 yang bertutur,
“Tunjukilah kami jalan yang lurus”
Jadi yang harus diminta paling pertama dari Allah adalah “jalan yang lurus”, bukan yang lain. Apakah jalan yang lurus itu? Al-Fatihah tidak membiarkan kita terbingung-bingung dan menjawabnya langsung di ayat penutup, ayat 7,
“(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
“Jalan yang lurus” adalah jalan para shalafush shaleh yang telah mampu menggapai Ridha dan Cinta Allah. Seperti apakah jalan mereka itu? Apa yang mereka lakukan sehingga bisa mendapatkan predikat hamba yang Diridhai dan Dicintai Allah?
Jawabannya mudah. Jalan orang yang diberi nikmat adalah jalan yang berseberangan dengan jalan yang ditempuh 2 golongan lain yang disebutkan di atas, yaitu mereka yang memperoleh “murka” Allah dan mereka yang “sesat”. Mungkin kita pernah mendengar pembahasan mengenai 2 golongan yang disebut di ayat terakhir Al-Fatihah ini, yaitu 2 golongan yang disebut-sebut takkan pernah berhenti memusuhi Islam hingga kiamat. Tapi yang harus kita cermati adalah karakter mereka yang membuat mereka dikatai “dimurkai” dan “sesat” oleh Al-Fatihah. Karena jangan-jangan walaupun kita semua mengaku muslim, tapi ternyata karakter kita sama dengan mereka. Maka bukan mustahil kita pun akhirnya memperoleh sebutan yang sama dengan mereka, “dimurkai” Allah dan “sesat”!!!
Golongan pertama, yang karakternya membuat Allah begitu “murka” kepada mereka, adalah golongan yang sudah mengetahui jalan kebenaran namun mereka ingkar. Dengan angkuhnya mereka menolak jalan kebenaran tersebut dan menganggap jalan lain yang mereka tempuh itulah yang terbaik. Sahabat, berhati-hatilah, dan marilah kita semua mengintrospeksi diri. Adakah ayat-ayat Allah yang sudah menjadi pengetahuan di kepala kita namun kita belum jua berusaha mengaplikasikannya? Berbagai perintah-Nya yang dengan sadar masih kita abaikan? Berbagai larangan-Nya yang terus saja sengaja kita langgar? Bisa jadi hal-hal inilah yang mengundang murka Allah datang kepada kita.
Sedang golongan kedua, yaitu orang-orang yang “sesat”, adalah orang-orang yang menutup mata dari kebenaran. Mereka tidak peduli akan kebenaran. Mereka juga tidak berusaha mencari tahu jalan kebenaran itu. Mereka ingin tetap tenang di jalan lain yang sedang mereka tempuh saat ini dan menutup mata serta telinga mereka dari seruan kepada jalan kebenaran. Sahabat, kembali sepertinya kita harus mengintrospeksi diri ini. Sudah sejauh manakah usaha kita mencari jalan Allah? Sudah sekeras apakah usaha kita untuk menuntut ilmu demi mendapatkan jalan dan tuntunan yang benar demi menggapai Ridha dan Cinta Allah? Jika kita masih saja tidak peduli akan hal ini, kita sudah merasa paling benar dengan shalat yang diajarkan di SD dulu, begitu juga shaum, zakat, ngaji, shadaqah, dan amalan-amalan lain kita, jangan-jangan kita juga termasuk golongan yang sesat.
Akhirnya Abu Yahya menyimpulkan bahwa sebagai muslim, kita tidak memiliki pilihan lain. Selain terus mengisi hari-hari kita dengan berusaha menuntut ilmu Islam semaksimal mungkin, dengan segala daya-upaya dan kemampuan kita. Dan setiap kita telah mengetahui apa yang Diinginkan Allah, maka kita harus melanjutkan dengan melaksanakannya semaksimal mungkin pula.
Jleb…!!! Duh, materi yang sungguh menohok. Tapi Abu Yahya benar, kita tidak punya pilihan lain. Sahabat, kalaulah dirimu merasa begitu sibuknya sehinga tidak sempat untuk datang ke majelis-majelis taklim yang sebetulnya bertaburan sekarang ini, kita masih memiliki MQfm kok. Highly recommended untuk terus manteng-in 102,7 fm, MQfm Bandung, di setiap perjalanan via radio di mobilmu, atau radio FM di hape-mu daripada ngelamun ga jelas di motor. MQfm juga bisa diakses via streaming melalui http://www.mqfm.net/. Dan di setiap kesempatan, di kantor, di rumah, dimanapun, kalaulah memungkinkan, mangga dicoba—kalau perlu memaksakan diri awalnya—mendengarkan radio yang sekarang bermoto Inspiring and Motivation Radio.
…life’s just a small step…a step to meet ALLAH swt Smiling to you…