sorry Palestine…

sorry Palestine, we can only sit and watch you there… (PAYAHHH…!!!)

Yang lantas terpikir adalah ‘bermimpi’ Indonesia memiliki Presiden sekaliber Ahmadinejad-nya Iran yang berani dengan lantang menentang Israel. Kemudian Sang Presiden akan mengirimkan Kontingen Garuda ke Israel, berada di barisan depan menentang agresi Israel…

—hadits tentang ’selemah-lemahnya iman’ adalah ‘menentang dengan hati’ selalu jadi pembenaran—

malu sama Iblis

harusnya kita malu sama Iblis…

Dia cuma sekali-kalinya “sombong” dihadapan Allah, namun ganjarannya laknat hingga kiamat…

Sedangkan kita, setiap hari berkelakuan “sombong” tanpa terhitung lagi…

MQfm, temaniku nantikan redanya gerimis

one way to heaven

Suara yang telah lama kurindu hadir kembali, yaitu suara hangat Kang Agus Al-Muhajir—salah satu penyiar favoritku di MQfm—dengan karakternya yang selalu bersemangat dalam membacakan skrip dan selalu responsif terhadap apa yang disampaikan setiap ustad narasumber.

Jumat sore itu, 1 Agustus 2008, adalah hari pertama MQfm resmi mengudara lagi setelah hilang selama lebih kurang 2 bulan. Walaupun sejak pagi sempat bolak-balik muncul dan menghilang, tapi ba’da Ashar itu siarannya cukup bagus, lancar dan jernih. Kang Agus memandu sesi “Mata Hati” yang setiap harinya, insyaAllah, akan hadir selepas waktu Ashar hingga pukul 17.30. Khusus Jumat sore akan diisi dengan materi akidah yang dibawakan oleh Ustad Abu Yahya.

Untuk sebuah siaran perdana yang muncul setelah sekian lama vakum, menurutku materi sore itu sangat baik dalam me-refresh semangat pencarian ilmu yang selama ini menjadi motivasi para pendengar MQfm untuk terus stay-tune di frekuensi 102,7 fm bandung. Sebuah pembahasan singkat nan padat tentang ayat-ayat terakhir sebuah surat yang saya yakin setiap muslim—yang shalat dengan baik maupun yang setidaknya pernah belajar shalat—menghapalnya dengan baik, Al-Fatihah.

Pembahasan dimulai dengan ayat 5 Al-Fatihah,

“ Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.”

Sebuah ayat yang menggambarkan konsep Islam yang menuntun umatnya untuk mendahulukan ibadah kepada Tuhannya sebelum kemudian meminta sesuatu dari Tuhannya. Ayat yang mengajarkan tatakrama dan etika kita sebagai makhluk di hadapan Sang Pencipta. Karena sudah sepantasnya kita beribadah, menyembah, dan mengagungkan Allah SWT yang sudah menganugerahkan banyak hal padahal kita tidak pernah memintanya; sebelum dilahirkan kita tidak pernah minta dianugerahi sepasang mata, telinga, tangan dan kaki, kesehatan, kecerdasan, bumi dengan segala kompleksitasnya yang membuatnya dapat kita tinggali, dan yang utama: Iman-Islam. Bahkan dengan konsep Islam bahwa hidup adalah ibadah, maka ibadah ini tidak terbatas pada jenis ibadah yang mahdhah—yang tatacaranya diatur dengan detil dan dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Namun setiap gerak langkah, sejak bangun pagi hingga terlelap tidur kembali, haruslah diniatkan dan diikhtiarkan selalu dalam koridor ibadah kepada Allah.

Setelah kewajiban kita beribadah tertunaikan, barulah kita pantas memohon dan meminta yang kita inginkan dari-Nya; uang, pangkat-jabatan, isteri/suami, anak, kesehatan, kesembuhan, ketenangan, dan lain-lain. Namun dengan elegan Al-Fatihah mengajarkan pula tentang apa yang seharusnya kita minta pertama kali dari Allah SWT. Karena ayat 5 Al-Fatihah tersebut disambung langsung dengan ayat 6 yang bertutur,

“Tunjukilah kami jalan yang lurus”

Jadi yang harus diminta paling pertama dari Allah adalah “jalan yang lurus”, bukan yang lain. Apakah jalan yang lurus itu? Al-Fatihah tidak membiarkan kita terbingung-bingung dan menjawabnya langsung di ayat penutup, ayat 7,

“(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”

“Jalan yang lurus” adalah jalan para shalafush shaleh yang telah mampu menggapai Ridha dan Cinta Allah. Seperti apakah jalan mereka itu? Apa yang mereka lakukan sehingga bisa mendapatkan predikat hamba yang Diridhai dan Dicintai Allah?

Jawabannya mudah. Jalan orang yang diberi nikmat adalah jalan yang berseberangan dengan jalan yang ditempuh 2 golongan lain yang disebutkan di atas, yaitu mereka yang memperoleh “murka” Allah dan mereka yang “sesat”. Mungkin kita pernah mendengar pembahasan mengenai 2 golongan yang disebut di ayat terakhir Al-Fatihah ini, yaitu 2 golongan yang disebut-sebut takkan pernah berhenti memusuhi Islam hingga kiamat. Tapi yang harus kita cermati adalah karakter mereka yang membuat mereka dikatai “dimurkai” dan “sesat” oleh Al-Fatihah. Karena jangan-jangan walaupun kita semua mengaku muslim, tapi ternyata karakter kita sama dengan mereka. Maka bukan mustahil kita pun akhirnya memperoleh sebutan yang sama dengan mereka, “dimurkai” Allah dan “sesat”!!!

Golongan pertama, yang karakternya membuat Allah begitu “murka” kepada mereka, adalah golongan yang sudah mengetahui jalan kebenaran namun mereka ingkar. Dengan angkuhnya mereka menolak jalan kebenaran tersebut dan menganggap jalan lain yang mereka tempuh itulah yang terbaik. Sahabat, berhati-hatilah, dan marilah kita semua mengintrospeksi diri. Adakah ayat-ayat Allah yang sudah menjadi pengetahuan di kepala kita namun kita belum jua berusaha mengaplikasikannya? Berbagai perintah-Nya yang dengan sadar masih kita abaikan? Berbagai larangan-Nya yang terus saja sengaja kita langgar? Bisa jadi hal-hal inilah yang mengundang murka Allah datang kepada kita.

Sedang golongan kedua, yaitu orang-orang yang “sesat”, adalah orang-orang yang menutup mata dari kebenaran. Mereka tidak peduli akan kebenaran. Mereka juga tidak berusaha mencari tahu jalan kebenaran itu. Mereka ingin tetap tenang di jalan lain yang sedang mereka tempuh saat ini dan menutup mata serta telinga mereka dari seruan kepada jalan kebenaran. Sahabat, kembali sepertinya kita harus mengintrospeksi diri ini. Sudah sejauh manakah usaha kita mencari jalan Allah? Sudah sekeras apakah usaha kita untuk menuntut ilmu demi mendapatkan jalan dan tuntunan yang benar demi menggapai Ridha dan Cinta Allah? Jika kita masih saja tidak peduli akan hal ini, kita sudah merasa paling benar dengan shalat yang diajarkan di SD dulu, begitu juga shaum, zakat, ngaji, shadaqah, dan amalan-amalan lain kita, jangan-jangan kita juga termasuk golongan yang sesat.

Akhirnya Abu Yahya menyimpulkan bahwa sebagai muslim, kita tidak memiliki pilihan lain. Selain terus mengisi hari-hari kita dengan berusaha menuntut ilmu Islam semaksimal mungkin, dengan segala daya-upaya dan kemampuan kita. Dan setiap kita telah mengetahui apa yang Diinginkan Allah, maka kita harus melanjutkan dengan melaksanakannya semaksimal mungkin pula.

Jleb…!!! Duh, materi yang sungguh menohok. Tapi Abu Yahya benar, kita tidak punya pilihan lain. Sahabat, kalaulah dirimu merasa begitu sibuknya sehinga tidak sempat untuk datang ke majelis-majelis taklim yang sebetulnya bertaburan sekarang ini, kita masih memiliki MQfm kok. Highly recommended untuk terus manteng-in 102,7 fm, MQfm Bandung, di setiap perjalanan via radio di mobilmu, atau radio FM di hape-mu daripada ngelamun ga jelas di motor. MQfm juga bisa diakses via streaming melalui http://www.mqfm.net/. Dan di setiap kesempatan, di kantor, di rumah, dimanapun, kalaulah memungkinkan, mangga dicoba—kalau perlu memaksakan diri awalnya—mendengarkan radio yang sekarang bermoto Inspiring and Motivation Radio.

…life’s just a small step…a step to meet ALLAH swt Smiling to you…  :)

sejenak

sebelum waktumu terasa terburu
sebelum lelahmu menutup mata
adakah langkahmu terisi ambisi
apakah kalbumu terasa sunyi

luangkanlah sejenak detik dalam hidupmu
berikanlah rindumu pada denting waktu

luangkanlah sejenak detik dalam sibukmu
dan lihatlah warna kemesraan dan cinta

sebelum hidupmu terhalang napasmu
sesudah nafsumu tak terbelengu
indahnya membisu tandai yang berlalu
bahasa tubuhmu mengartikan rindu

luangkanlah sejenak detik dalam hidupmu
berikanlah rindumu pada denting waktu

luangkanlah sejenak detik dalam sibukmu
dan lihatlah warna kemesraan dan cinta

–letto, sejenak–

MQfm-ku

It’s been almost more than 2 months I guess…

Entahlah, berasa udah lama banget MQfm menghilang dari peredaran… Aku masih membiarkan Channel List nomor 9 di ponselku diisi oleh frekuensi 102,7 MHz, walaupun setiap kali kucoba memijit tombol tersebut—sambil harap-harap cemas—yang terdengar hanyalah suara gemerising kosong, pertanda MQfm Bandung “Sahabat Bersama Menuju Kebaikan”, masih belum jua kembali mengudara…

Ya Allah…aku rindu akan uraian curhat para Tahajud Call-ers yang menghiasi setengah jam awal perjalananku dari rumah menuju apotek (mulai pukul 6 pagi, selama + 30 menit). Mereka yang senantiasa membuatku iri, karena mereka mampu bangun malam, menunaikan shalat tahajud, lalu menumpahkan rasa riang mereka karena tadi malam mereka usai berduaan dengan-MU, Ya Khalik.

Kemudian sesampainya di apotek, aku sangat merindukan paparan-paparan kritis perihal berbagai masalah up-to-date dari sudut pandang Islam. Sesi yang membuatku melek akan berbagai permasalahan bangsa dan dunia. Dihiasi berbagai komentar dari pendengar setia MQ, menyadarkanku tentang betapa majemuknya manusia—adanya perbedaan pola pikir, cara pandang, dan gaya penyampaian pendapat. Hingga kurang-lebih pukul 8.30 pagi, MQ-Pagi inilah yang biasa menemaniku bersih-bersih apotek, memeriksa stok obat kosong, menuliskannya di buku defecta, dan ngorder ke pusat.

Setengah jam selanjutnya, hingga pukul 9.00, para entrepreneur memperoleh kesempatan untuk menjajakan apapun bentuk usaha mereka di MQ-Sales. Dari yang jualan pulsa, menawarkan jasa les privat, hingga motor, mobil, tanah dan rumah.

Lalu acara dilanjutkan dengan Ensiklopedi-MQ, yang menawarkan uraian singkat (5 hingga 10 menit saja) tentang berbagai hal seperti: biografi singkat orang-orang penting, tips-tips kesehatan, sejarah Islam, dll. Pendengar bisa memilih sendiri tema-tema yang telah disiapkan. Satu jam hingga pukul 10.00, bisa 4 atau 5 topik yang dibacakan.

Acara favoritku muncul setelahnya, dimulai pukul 10 hingga adzan Dhuhur berkumandang: MQ-Share and Care. Dibuka dengan pemaparan materi dari narasumber, materi seputar keluarga yang diberikan menambah wawasanku akan ilmu yang diperlukan untuk membina sebuah rumah tangga yang sakinah-mawaddah-warrahmah. Khususnya hari Rabu yang sulit kulewatkan, karena materinya adalah seputar Pra-Nikah; tentang bagaimana menumbuhkan semangat menuju pernikahan, mempersiapkan diri menghadapinya, hingga cara-cara Islami yang Allah Ridha untuk menggapainya…(ups!)

Sesi ini juga melibatkan pendengar yang ingin mencurahkan kisah-kisah, cerita, dan pengalaman mereka seputar rumah tangga. Kisah yang sangat beragam, dari yang truly inspiring dan membuatku ingin meneladaninya, hingga cerita-cerita tragis yang banyak terjadi dan seharusnya menjadi bahan introspeksi diri.

Selepas adzan Dhuhur diisi dengan lantunan lagu-lagu Islami yang di-request langsung oleh para pendengar melalui SMS atau line telepon. Terus terang untuk yang satu ini aku masih berat untuk terus tune-in. Kalaulah lebih banyak lagi musisi Islami yang kreatif dalam memberikan warna lain pada musik yang bernapaskan Islam, seperti Opick misalnya, mungkin aku bisa stand-by terus di sesi ini. Tapi maaf MQ, hingga adzan Ashar aku terpaksa bolak-balik pindah saluran ke radio tetangga—mencari-cari lagu yang enak didengar untuk menemaniku nginput faktur atau membuat report-report.

Sore hari, usai Adzan Ashar yang dilanjutkan dengan dzikir Al-Ma’tsurat sejenak, hadir ustadz-uztadz dari IKADI (Ikatan Dai Indonesia) sebagai pengisi acara. Materinya beragam setiap harinya, dari Kajian Qur’an, Kajian Hadits, pembahasan Akidah, Fiqih, hingga uraian Pengobatan Cara Nabi. Seperti biasa, pendengar dibolehkan berinteraksi dan bertanya melalui SMS atau telepon langsung.

Mentari tenggelam, adzan Maghrib kembali dilantunkan, lalu aku pun bisa mendengarkan senandung ayat-ayat Qur’an yang disuguhkan dengan teknik Tahsin yang baik, plus langgam yang beragam dan bisa dijadikan referensi jika Anda sedang mencari-cari nada yang cocok untuk Anda ketika mengaji. Sang pengisi tamu pun biasanya akan memberikan satu-dua materi mengenai teknik-teknik Tahsin. Jika Anda penasaran apakah cara ngaji Anda sudah benar atau belum menurut kaidah Tahsin, silahkan menelepon saja. Anda akan diberikan kesempatan untuk ngaji on-air, dan setelahnya akan ada koreksi-koreksi terhadap bacaan Anda.

Sampailah aku pada waktu Isya. Selesai adzan Isya, akan diputarkan lagu-lagu Asma’ul Husna dengan beberapa versinya dari penyanyi yang berbeda. Setelah itu barulah kembali dihadirkan pembicaraan dengan topik menarik yang tetap beragam setiap harinya. Senin, ada Andri Maadsa dkk yang akan memompa semangat Anda dan membuat gairah hidup Anda kembali menggelora. Selasa waktunya untuk MQ dan Iptek, dengan narasumber tokoh-tokoh dari kalangan akademisi. Rabu, sepertinya diisi dengan materi ekonomi syariah (kurang jelas untuk yang satu ini, karena biasanya pas ama jadwal futsal!hehe..). Kamis saatnya siaran langsung dari masjid Daarut Tauhid, untuk mendengarkan Aa Gym yang akan membahas satu dari 99 Asma’ul Husna. Jumat, Ustadz Budi Prayitno akan memberikan tips-tips untuk membuat slogan Rumahku-Surgaku jadi kenyataan; membimbingku menjadikan rumah dan keluarga sebagai sesuatu yang paling dirindukan di dunia. Sabtu adalah sesi spesial untuk para remaja; ditemani Ustadz Darlis Fajar, mereka akan dibimbing untuk mengisi masa muda mereka dengan cara dan napas yang Islami. Minggu malam, sambil nungguin Apotek yang biasanya lagi sepi-sepinya, sang penyiar akan membacakanku kisah-kisah yang membuatku merenung dan mengevaluasi diri, tentang apa yang telah kulewati selama sepekan.

Di sela-sela rangkaian acara di atas, hadir pula petikan terjemahan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasul SAW. The point is: MQfm selalu menyuguhkan telinga ini kebaikan. Seolah tak ingin melihatku lengah sedikitpun dari mengingat Allah.

Mungkin aku masih harus terus bersabar, menantikan MQfm—yang lagi sibuk pindahan ke lokasi baru—kembali mengudara. Semoga Allah SWT selalu bersama mereka, memudahkan segala urusan mereka, sehingga mereka pun bisa kembali menemani hari-hariku…

Cepet sembuh ya MQfm-ku…amiiin…

…life’s just a small step…a step to meet ALLAH swt Smiling to you… )

resistensi antibiotik

lagi niat nyari bahan untuk mulai nulis2 lagi nih…terus ngetik “resistensi antibiotik” di mesin pencari, dan results yang keluar cukup banyak…(nice to read, tapi pikir2 males juga klo harus baca semua “teori” ini satu-satu!)

dan buat saya yang sehari-hari di apotek serta berhadapan langsung dengan pasien, satu hal menggelitik yang seharusnya jadi bahan introspeksi para Apoteker : where are you guys when they (para pasien yeuh!) freely buy these antibiotics di apotekmu and use them seenak udele dewe…???

…life’s just a small step…a step to meet ALLAH swt Smiling to you… )

why…?

Mungkin ini jawaban yang kucari…

Sebuah nasihat dari seorang teman, semoga bermanfaat Sahabat…dia bilang: “klo terasa berat, dan merasa susah bangun malam untuk shalat tahajud, coba introspeksi diri, barangkali ada maksiat yang kita lakukan di siang harinya.”

Subhanallah…Sahabat, mungkin teman saya itu benar. Karena ibadah suci ini diperuntukkan bagi mereka yang senantiasa berusaha mensucikan dirinya; berusaha mempersiapkan diri untuk bertatap muka dengan Sang Khalik…sehingga setiap maksiat yang kita lakukan bisa menjadi penghalang kita untuk bangun malam…

suara bening sang penyiar yang akrab di telingaku, yang setiap pagi menemaniku menyisiri jalanan…pagi itu membuatku terhenyak…mengingatkanku akan adanya korelasi yang jelas antara naik-turunnya semangat ibadah, dengan amalan positif-negatif yang kita lakukan.

Membuatku teringat kembali dengan sebuah hadits Rasul SAW yang intinya: iman itu kadang naik dan kadang turun, ia naik saat kita melakukan amal shalih, dan ia turun ketika kita sedang bermaksiat kepada Allah…

AA-2

klo ga penting mendingan diem… bicaralah kalo dikira memang akan memberikan manfaat…

sebelum bicara, tanyakan dulu kedalam hati: “apa NIAT saya?”

kalau cuma ingin dipuji, ingin dianggap tahu, ingin dianggap pintar, ingin dianggap lebih…… parahnya lagi kalau ingin menyakiti perasaan orang lain, ingin membuat orang lain dongkol…… maka lebih baik DIAM !!!

manusia mungkin bisa dibohongi, tapi Allah dan malaikat-Nya yang mencatat, lebih tahu apa yang tersirat didalam hatimu…dan kelak Allah akan mempertanyakan hal ini…

–Aa Gym, kamis malam–

…life’s just a small step…a step to meet ALLAH swt Smiling to you… )

dokter versus apoteker

Dokter memulai “praktek”-nya pagi hari (let’s say 06.30) di tempat prakek pertama sebelum mereka datang ke rumah sakit tempat mereka bekerja. Di rumah sakit dia bertugas hingga sore hari. Selesai dari rumah sakit (kira-kira pukul 15-an), dokter tersebut meluncur ke tempat praktek lain dan melayani pasien hingga malam hari (mungkin hingga pukul 20-an)…


Sementara Apoteker berkunjung ke apotek-nya satu bulan sekali. Itu pun hanya untuk berbincang-bincang dengan PSA (Pemilik Sarana Apotek, alias Bos, intinya adalah orang yang punya apotek) dan sebelum pulang menerima amplop dari PSA berisi honor menggadaikan ijazah Apoteker-nya.


Dokter sepanjang hari berhadapan langsung dengan masyarakat yang sedang ditimpa sakit. Bagi pasien, secarik kertas resep yang dokter berikan merupakan secercah harapan akan kesembuhan mereka…


Sementara saat Apoteker melakukan ”kunjungan sebulan sekali”-nya, dia asik ngobrol ngalor-ngidul dengan sang PSA tanpa peduli ada atau tidak ada pasien yang sedang membutuhkan pertolongan di apotek-nya…


Dokter dengan tenang melakukan diagnosa kepada setiap pasien yang datang padanya.


Sementara Apoteker yang sedang ”berkunjung” tersebut akan kalang-kabut jika tiba-tiba disodorkan selembar resep yang masuk ke apotek-nya saat itu dan diminta mengerjakannya…


Ketika seorang anak kecil berumur 5 tahun ditanya: ”Adik yang baik, tahu ga dokter itu apa?”, dia akan dengan mudah menjawab—tentunya dengan sebuah jawaban yang kocak layaknya seorang anak kecil—menerangkan profesi tersebut.


Sementara saat seorang pedagang daging di sebuah pasar ditanya: ”Pak, tahu ga apoteker itu apa?”, dia akan mengernyitkan dahi—tanda berpikir keras—dan menjawab dengan gelengan kepala (dalam hati: ”apaan tuh?!”)…


Woiiii Apotekers…!!!
Cik lah ulah Tekab wae…
(Tolong lah jangan Tekab melulu…)

 

…life’s just a small step…a step to meet ALLAH swt Smiling to you… :)

delay

Pukul tiga sore lewat setengah jam-an, sudah masuk waktu Ashar, tapi aku masih asyik di depan komputer, nginput faktur…

“Tanggung ah…!” ocehku dalam hati, “Ashar-nya sekarang mundur, jadi ntar jam empat lewat-an juga masih termasuk awal waktu shalat kan..”

Benar perkiraanku, kurang lebih sepuluh menit-an lewat dari pukul empat aku selesai dengan faktur-faktur itu. Aku pun berwudhu dan bergegas menuju tempat shalat. Namun sebelum Takbiratul ihram, saat aku mencoba menyiapkan diri—menenangkan diri—demi menghadap Sang Pencipta-ku…

“Zan, kira-kira gimana ya kalo Allah nunda masuknya oksigen masuk ke paru-paru kamu…?! Barang satu meniiiiit aja…(shorter than what you’ve done to Him)…I guess it won’t make you die… (satu menit doank kok…!) Paling-paling kamu gelagapan, kelepek-kelepek bentar selama satu menit itu. Are you okay with that?”

Hatiku bergetar, tapi aku pun memaksakan memulai shalatku.

Allahuakbar…

“Zan, kalo Allah nunda produksi asam lambungmu barang setengah jam aja—just like what you’ve done to Him—padahal kamu lagi asik-asiknya makan…gimana jadinya ya?! Kayanya ga bakal bikin kamu mati juga deh… palingan kerasa sakit perut doank karena makanan yang terlanjur ada di lambungmu ga ada yang mencerna, tumbling upside-down inside your stomach with just a few scratching on its wall… Are you okay with that?”

Bismillahirrahmanirrahim…

(aku pun tak kuasa lagi menahan tangis)

Alhamdulillahirabbil ‘alamin…

(terisak-isak di awal Al-Fatihah)

Arrahmanirrahim…

(aku malu…)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.